Sabtu, 29 April 2017

KEMISKINAN DAN KESENJANGAN

Kemiskinan merupakan ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar dan memperbaiki keadaan. kemiskinan diartikan secara luas dengan menambahkan faktor faktor lain seperti faktor sosial dan moral. Secara konvensional, kemiskinan dapat diartikan sebagai suatu keadaan individu atau masyarakat yang berada di bawah garis tertentu. Secara umum pengertian kemiskinan identik dengan ketidakmampuan sekelompok masyarakat yang terhadap sistem yang diterapkan oleh suatu pemerintah sehingga mereka berada pada posisi yang sangat lemah dan tereksploitas (kemiskinan struktural).
Kemiskinan menurut Edi Suharto dalam Abdul Hakim (2002:219) adalah ketidaksamaan kesempatan mengakumulasi basis kekuasaan sosial.
Basis kekuasaan sosial meliputi:
·         Sumber keuangan (mata pencaharian, kredit, modal)
·         Modal produktif atau asset (tanah, perumahan, kesehatan, alat produksi)
·         Jaringan sosial untuk memperoleh pekerjaan, barang, dan jasa.
·         Organisasi sosial dan politik yang digunakan untuk mencapai kepentingan bersama.
·         Informasi yang berguna untuk kemajuan hidup.
·         Pengetahuan dan keterampilan.

Kemiskinan dan Kesenjangan
         Kemiskinan disepakati sebagai masalah yang bersifat sosial ekonomi, tetapi penyebab dan cara mengatasinya terkait dengan ideologi yang melandasinya.
Kemiskinan sering disandingkan dengan kesenjangan, karena masalah kesenjangan mempunyai kaitan dengan masalah kemiskinan. Substansi kesenjangan adalah ketidak merataan akses terhadap sumber daya ekonomi. Sudibyo (1995:11) mengatakan bahwa “apabila berbicara mengenai kemiskinan maka kemiskinan dinilai secara mutlak, sedangkan penilaian terhadap kesenjangan digunakan secara relatif”. Dalam suatu masyarakat mungkin tidak ada yang miskin, tapi kesenjangan masih dapat terjadi di dalam masyarakat tersebut.
Kesenjangan sosial  diartikan sebagai kesenjangan (ketimpangan) atau ketidaksamaan
akses untuk mendapatkan atau memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Sumber daya berupa kebutuhan primer, seperti: pendidikan, kesehatan, perumahan, peluang berusaha dan kerja, dapat berupa kebutuhan sekunder, seperti: sarana pengembangan usaha, sarana perjuangan hak azasi, pemenuhan pengembangan karir,dll.
Kesenjangan sosial dapat disebabkan oleh adanya faktor-faktor penghambat sehingga mencegah dan menghalangi seseorang untuk memanfaatkan aksesatau kesempatan-kesempatan yang tersedia. Secara teoritis sekurang kurangnya ada dua faktor yang dapat menghambat.

Pertumbuhan Kemiskinan dan Kesenjangan

1. Hubungan antara Pertumbuhan dan Kesenjangan:
Hipotesis Kuznets Data decade 1970an dan 1980an mengenai pertumbuhan ekonomi dan distribusi di banyak Negara berkembang, terutama Negara-negara dengan proses pembangunan ekonomi yang tinggi, seperti Indonesia menunjukkan seakan-akan ada korelasi positif antara laju pertumbuhan dan tingkat kesenjangan ekonomi yaitu semakin tinggi pertumbuhan PDB atau semakin besar pendapatan per kapita semakin besar perbedaan antara kaum miskin dan kaum kaya. 

2. Hubungan antara Pertumbuhan dan Kemiskinan
Dasar teori dari korelasi antara pertumbuhan dan kemiskinan tidak berbeda dengan kasus pertumbuhan dengan ketimpangan, pada tahap awal proses pembangunan tingkat kemiskinan cenderung meningkat, dan saat mendekati tahap akhir pembangunan jumlah orang miskin berangsur berkurang. Namun banyak faktor lain selain pertumbuhan yang juga mempunyai pengaruh besar terhadap tingkat kemiskinan di suatu wilayah/Negara seperti struktur pendidikan tenaga kerja dan struktur ekonomi.

Kemiskinan di Indonesia
Permasalahan yang dihadapi dan diselesaikan pemerintah indonesia adalah kemiskinan, disamping masalah-masalah yang lainnya, dewasa ini pemerintah belum mampu menghadapi atau menyelesaikan permasalahan kemiskinan.
           Kemiskinan harus diakui memang terus menjadi masalah fenomenal Indonesia sebagai negara bangsa, bahkan hampir seluruh energi dihabiskan hanya untuk mengurus persoalan kemiskinan. Kemiskinan membuat jutaan anak tidak bisa mengenyam pendidikan yang berkualitas, kesulitan membiayai kesehatan, kurangnya tabungan dan tidak adanya investasi, kurangnya akses ke pelayanan publik, kurangnya lapangan pekerjaan, kurangnya jaminan sosial dan perlindungan terhadap keluarga, menguatnya arus perpindahan dari desa ke kota dengan tujuan memperbaiki kehidupan, dan yang lebih parah, kemiskinan menyebabkan jutaan rakyat memenuhi kebutuhan pangan, sandang dan papan secara terbatas.
Kemiskinan menyebabkan masyarakat desa rela mengorbankan apa saja demi keselamatan hidup, kemiskinan menyebabkan banyak orang melakukan prilaku menyimpang, harga diri diperjual belikan hanya untuk mendapatkan makan. Si Miskin rela mempertaruhkan tenaga fisik untuk memproduksi keuntungan bagi mereka yang memiliki uang dan memegang kendali atas sektor perekonomian lokal dan menerima upah yang tidak sepadan dengan biaya tenaga yang dikeluarkan.

Faktor-Faktor Penyebab Kemiskinan
Faktor kemiskinan menurut Hartomo dan Aziz dalam Dadan Hudyana (2009:28-29):
1.      Pendidikan yang Terlampau Rendah
Tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan seseorang kurang mempunyai keterampilan tertentu yang diperlukan dalam kehidupannya. Keterbatasan pendidikan atau keterampilan yang dimiliki seseorang menyebabkan keterbatasan kemampuan seseorang untuk masuk dalam dunia kerja.
2.      Malas Bekerja
Adanya sikap malas (bersikap pasif atau bersandar pada nasib) menyebabkan seseorang bersikap acuh tak acuh dan tidak bergairah untuk bekerja.
3.      Keterbatasan Sumber Alam
Suatu masyarakat akan dilanda kemiskinan apabila sumber alamnya tidak lagi memberikan keuntungan bagi kehidupan mereka. Hal ini dikatakan masyarakat itu miskin karena sumberdaya alamnya miskin.
4.      Terbatasnya Lapangan Kerja
Keterbatasan lapangan kerja akan membawa konsekuensi kemiskinan bagi masyarakat. Secara ideal seseorang harus mampu menciptakan lapangan kerja baru sedangkan secara faktual hal tersebut sangat kecil kemungkinanya bagi masyarakat miskin karena keterbatasan modal dan keterampilan.
5.      Keterbatasan Modal
Seseorang miskin sebab mereka tidak mempunyai modal untuk melengkapi alat maupun bahan dalam rangka menerapkan keterampilan yang mereka miliki dengan suatu tujuan untuk memperoleh penghasilan.
6.      Beban Keluarga
Seseorang yang mempunyai anggota keluarga banyak apabila tidak diimbangi dengan usaha peningakatan pendapatan akan menimbulkan kemiskinan karena semakin banyak anggota keluarga akan semakin meningkat tuntutan atau beban untuk hidup yang harus dipenuhi.

Suryadiningrat dalam Dadan Hudayana (2009:30), mengemukakan bahwa kemiskinan pada hakikatnya disebabkan oleh kurangnya komitmen manusia terhadap norma dan nilai-nilai kebenaran ajaran agama, kejujuran dan keadilan. Hal ini mengakibatkan terjadinya penganiayaan manusia terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain. Penganiayaan manusia terhadap diri sendiri tercermin dari adanya :
·         Keengganan bekerja dan berusaha,
·         Kebodohan,
·         Motivasi rendah,
·         Tidak memiliki rencana jangka panjang,
·         Budaya kemiskinan, dan

Dampak kemiskinan
Buruknya generasi penerus adalah dampak yang berbahaya akibat kemiskinan. Jika anak-anak putus sekolah dan bekerja karena terpaksa, maka akan ada gangguan pada anak-anak itu sendiri seperti gangguan pada perkembangan mental, fisik dan cara berfikir mereka. Contohnya adalah anak-anak jalanan yang tak mempunyai tempat tinggal, tidur dijalan, tidak sekolah, mengamen untuk mencari makan, dll .
Dampak kemiskinan pada generasi penerus merupakan dampak yang panjang dan buruk karena anak-anak seharusnya mendapatkan hak mereka untuk bahagia, mendapat pendidikan, mendapat nutrisi baik dan lain sebagainya. Ini dapat menyebabkan mereka terjebak dalam kesulitan hingga dewasa dan berdampak pada generasi penerusnya.
Dampak kemiskinan antara lain :
1.      Pengangguran
Pengangguran merupakan dampak kemiskinan, berhubung pendidikan dan keterampilan merupakan hal yang sulit diraih masyarakat, maka masyarakat sulit untuk berkembang dan mencari pekerjaan  yang layak untuk memenuhi kebutuhan. Seorang pengangguran yang tak dapat memberikan makan kepada anaknya akan menjadi dampak yang buruk bagi masa depan .
2.      Kriminalitas
Kriminalitas merupakan dampak kemiskinan. Kesulitan mencari nafkah mengakibatkan orang lupa diri sehingga mencari jalan cepat tanpa memedulikan halal atau haramnya uang sebagai alat tukar guna memenuhi kebutuhan. Misalnya saja perampokan, penodongan, pencurian, penipuan, pembegalan.
3.      Putusnya sekolah
Kesempatan pendidikan merupakan dampak kemiskinan. Mahalnya biaya pendidikan menyebabkan rakyat miskin putus sekolah karena tak lagi mampu membiayai sekolah.
4.      Kesehatan
Kesehatan sulit didapatk karena kurangnya pemenuhan gizi sehari-hari akibat kemiskinan membuat rakyat miskin sulit menjaga kesehatannya. Belum lagi biaya pengobatan yang mahal di klinik atau rumah sakit yang tidak dapat dijangkau masyarakat miskin. Ini menyebabkan gizi buruk atau banyaknya penyakit yang menyebar.

Kebijakan Anti Kemiskinan 
Kebijakan anti kemiskinan dan distribusi pendapatan muncul sebagai salah satu kebijakan yang sangat penting dari lembaga-lembaga dunia.
Tahun 1990, Bank Dunia lewat laporannya World Developent Report on Proverty mendeklarasikan bahwa suatu peperangan yang berhasil melawan kemiskinan perlu dilakukan secara serentak pada tiga front :
1.      Pertumbuhan ekonomi yang luas dan padat karya yang menciptakan kesempatan kerja danpendapatan bagi kelompok miskin,
2.      Pengembangan SDM (pendidikan, kesehatan, dan gizi), yang memberi mereka kemampuan yang lebih baik untuk memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang diciptakan oleh pertumbuhan ekonomi,
3.      Membuat suatu jaringan pengaman sosial untuk mereka yang diantara penduduk miskin yang sama sekali tidak mamu untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan dari pertumbuhan ekonomi dan perkembangan SDM akibat ketidakmampuan fisik dan mental, bencana alam, konflik sosial, dan terisolasi secara fisik.

Cara Mengatasi Kemiskinan
1.      Bantuan kemiskinan atau membantu secara langsung kepada orang miskin.
2.      Bantuan terhadap keadaan individu. Banyak macam kebijakan yang dijalankan untuk mengubah situasi orang miskin berdasarkan perorangan termasuk hukuman,pendidikan,kerja sosial,pencarian krja,dan lain-lain.
3.      Persiapan bagi yang lemah. Banyak negara sejahtera menyediakan bantuan untuk orang yang dikategorikan sebagai orang yang lebih miskin, seperti orang tua atau orang dengan ketidakmampuan , atau keadaan yang membuat orang miskin, seperti kebutuhan akan perawatan kesehatan.

Rendahnya beberapa faktor di atas menyebabkan rendahnya aktivitas ekonomi yang dapat dilakukan oleh masyarakat. Dengan rendahnya aktivitas ekonomi yang dapat dilakukan berakibat pada rendahnya produktivitas dan pendapatan yang diterima yang pada gilirannya pendapatan tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan fisik minimum yang menyebabkan terjadinya proses kemiskinan.



Upaya Pemerintah mengatasi masalah kemiskinan
Dalam program pembangunannya, pemerintah menjadikan kemiskinan sebagai salah satu fokus utamanya. Program umum pemerintah sendiri adalah program pembangunan yang berfokus pada pengentasan kemiskinan, peningkatan pertumbuhan ekonomi dan perluasan lapangan kerja.
Kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi kemiskinan:
1.      Kebijaksanaan tidak langsung
Kebijaksanaan tidak langsung diarahkan pada penciptaan kondisi yang menjamin kelangsungan setiap upaya penanggulangan kemiskinan. Kondisi yang dimaksudkan antara lain adalah suasana sosial politik yang tentram, ekonomi yang stabil dan budaya yang berkembang.
2.      Kebijaksanaan langsung
Kebijaksanaan langsung diarahkan kepada peningkatan peran serta dan produktifitas sumber daya manusia ,khususnya golongan masyarakat berpendapatan rendah. Melalui penyediaan kebutuhan dasar seperti sandang,pangan dan papan, kesehatan dan pendidikan, serta pengembangan kegiaatan sosial ekonomi yang berkelanjutan untuk mendorong kemandirian golongan masyarakat yang berpendapatan rendah.

Langkah Pemerintah Mengatasi Masalah Kemiskinan 
Pemerintah perlu membuat ketegasan dan kebijakan menyelesaikan masalah kemiskinan ini. Beberapa langkah yang bisa dilakukan diantaranya adalah :
1.      Menciptakan lapangan kerja
Lapangan Kerja yang mampu menyerap banyak tenaga kerja sehingga mengurangi pengangguran. Karena pengangguran adalah salah satu sumber penyebab kemiskinan terbesar di indonesia.
2.      Menghapuskan korupsi.
Sebab korupsi adalah salah satu penyebab layanan masyarakat tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hal inilah yang kemudian menjadikan masyarakat tidak bisa menikmati hak mereka sebagai warga negara sebagaimana mestinya.
3.      Menggalakkan program zakat.
Di indonesia, islam adalah agama mayoritas. Dan dalam islam ajaran zakat diperkenalkan sebagai media untuk menumbuhkan pemerataan kesejahteraan di antara masyarakat dan mengurangi kesenjangan kaya-miskin. Potensi zakat di indonesia, ditengarai mencapai angka 1 triliun setiap tahunnya. Dan jika bisa dikelola dengan baik akan menjadi potensi besar bagi terciptanya kesejahteraan masyarakat.
4.      Menjaga stabilitas harga bahan kebutuhan pokok.
Program ini bertujuan menjamin daya beli masyarakat miskin/keluarga miskin untuk memenuhi kebutuhan pokok, terutama beras .
5.      Meningkatkan akses masyarakat miskin kepada pelayanan dasar.
Program ini bertujuan untuk meningkatkan akses penduduk miskin memenuhi kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan prasarana dasar. 
6.      Menyempurnakan dan memperluas cakupan program pembangunan berbasis masyarakat.
Program ini bertujuan untuk meningkatkan sinergi dan optimalisasi pemberdayaan masyarakat di kawasan perdesaan dan perkotaan serta memperkuat penyediaan dukungan pengembangan kesempatan berusaha bagi penduduk miskin.  

Kesimpulan
Masalah kemiskinan di Indonesia memang sangat rumit untuk dipecahkan. Dan tidak hanya di Indonesia saja sebenarnya yang mengalami jerat kemiskinan, tetapi banyak negara di dunia yang mengalami permasalahan ini.
Upaya penurunan tingkat kemiskinan sangat bergantung pada pelaksanaan dan pencapaian pembangunan di berbagai bidang. Oleh karena itu, agar pengurangan angka kemiskinan dapat tercapai,dibutuhkan sinergi dan koordinasi program-program pembangunan di berbagai sektor,terutama program yang menyumbang langsung penurunan kemiskinan.
Negara yang ingin membangun perekonomiannya harus mampu meningkatkan standar hidup penduduk negaranya, yang diukur dengan kenaikan penghasilan riil per kapita. Indonesia sebagai negara berkembang memenuhi aspek standar kemiskinan diantaranya merupakan produsen barang primer,memiliki masalah tekanan penduduk,kurang optimalnya sumber daya alam yang diolah,produktivitas penduduk yang rendah  karena keterbelakangan pendidikan,kurangnya modal pembangunan,dan orientasi ekspor barang primer karena ketidakmampuan dalam mengolah barang-barang tersebut menjadi lebih berguna.

Saran
Dalam menghadapi kemiskinan di zaman global diperlukan usaha-usaha yang lebih kreatif,inovatif dan eksploratif. Selain itu,globalisasi membuka mata bagi Pegawai pemerintah,maupun calon pegawai pemerintah agar berani mengambil sikap yang lebih tegas sesuai dengan visi dan misi bangsa Indonesia ( tidak memperkaya diri sendiri dan kelompoknya).
Pemerintah sebaiknya menjalankan program terpadu secara serius dan bertanggung jawab agar dapat segera mengatasi masalah kemiskinan di Indonesia. Sebagai warga negara Indonesia yang baik, mari kita dukung semua program pemerintah dengan sungguh-sungguh demi masa depan bangsa dan negara Indonesia terbebas dari kemiskinan. Mari kita tingkatkan kepedulian dan kepekaan sosial untuk membantu saudara kita yang masih mengalami kemiskinan.dan meningkatkan kualitas SDM dalam pengetahuan,wawasan,skill,mentalitas dan moralitas yang standarnya adalah standar global.


Anggota Kelompok :
Irma Yantika
Muhammad Dimas Khoirullah
Puspita Febriyanti


SUMBER :


PEMBANGUNAN EKONOMI DAERAH SULAWESI TENGAH

PEMBANGUNAN EKONOMI DAERAH SULAWESI TENGAH
1.      Tahun 2012
Palu, - Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Tengah pada 2012 meningkat sebesar 9,27 persen.
nilai produk domestik regional bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2000 juga naik dari Rp19.237 miliar 2011 menjadi Rp 21.019 miliar 2012.
Pertumbuhan ekonomi tertinggi terjadi pada sektor pertambangan dan penggalian yang mencapai 26,69 persen.
Sementara pertumbuhan ekonomi tanpa minyak dan gas pada 2012 mencapai 9,45 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Sektor pertanian walaupun tumbuh 6,19 persen, tetapi tetap menjadi sumber pertumbuhan ekonomi utama yakni sebesar 2,42 persen, diikuti sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh 26,99 persen dengan menyumbang pertumbuhan ekonomi sebesar 1,54 persen.
Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan III-2012 mencapai 7,28%  , lebih rendah dari pertumbuhan triwulan II-2012 sebesar 9,68% (yoy) maupun periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 9,31% . Di sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi terutama ditopang oleh komponen investasi, diikuti konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah dengan kontribusi masing-masing sebesar 4,29%, 2,64% dan 2,28%. Bila dilihat secara sektoral pertumbuhan ekonomi terutama di topang oleh kinerja pada sektor pertanian, sektor jasa-jasa dan sektor perdagangan, hotel dan restoran, dimana masing-masing memiliki kontribusi sebesar 2,82%, 1,40% dan 1,14%. Panen raya padi dan kakao yang berlangsung pada triwulan laporan, realisasi anggaran pemerintah (APBD dan APBN) yang berjalan progresif, peningkatan geliat ekonomi pada bulan Ramadhan dan Hari Raya idul Fitri serta realisasi investasi proyek konstruksi PT. Donggi Senoro LNG yang masih berjalan menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan ekonomi pada triwulan laporan. Secara tahunan , laju inflasi kota Palu pada akhir triwulan III-2012 mencapai 6,78%, lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3,09% dan inflasi nasional 4,31%. Pada triwulan laporan, kota Palu mengalami inflasi kuartalan sebesar 2,62% atau lebih tinggi dibandingkan inflasi triwulan sebelumnya sebesar 1,72% . Komoditas angkutan udara dan ikan segar dominan dalam menyumbang inflasi. Hasil Survei Konsumen pada triwulan laporan menunjukkan bahwa ekspektasi konsumen terhadap harga cenderung meningkat pada akhir triwulan III-2012 yang dipengaruhi oleh adanya bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan IV/2012 tumbuh 7,83 persen dibandingkan triwulan III/2012, dan jika dibandingkan triwulan IV/2011 tumbuh sebesar 10,97 persen.
Pada triwulan IV/2012 semua sektor mengalami pertumbuhan ekonomi jika dibandingkan dengan triwulan III/2012.
Priyono mengatakan pertumbuhan ekonomi tertinggi pada triwulan IV/2012 adalah sektor pertambangan dan penggalian, yakni sebesar 107,75 persen.
Pertumbuhan ekonomi tahun 2012 sebesar 9,27 persen bersumber dari konsumsi rumah tangga (3,92 persen), pembentukan modal tetap bruto atau investasi fisik (3,28 persen), serta ekspor barang dan jasa 2,19 persen.
Sementara impor barang dan jasa merupakan faktor pengurang pertumbuhan sebesar 1,39 persen, konsumsi pemerintah (1,13 persen), dan perubahan inventori 0,13 persen. (R026/SKD) 
Perkembangan berbagai indikator perbankan pada triwulan III-2012 menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Secara industri (gabungan Bank Umum dan BPR), jumlah aset perbankan di Sulawesi Tengah pada bulan September2012 tercatat sebesar Rp17.056,47 milyar atau tumbuh sebesar 26,19% . Sementara itu jumlah DPK yang dihimpun di akhir triwulan III-2012tercatat sebesar Rp10.469 milyar atau tumbuh sebesar 26,17% . Dalam hal penyaluran kredit, secara keseluruhan kinerja perbankan meningkat dengan pertumbuhan hingga mencapai 22,20%  sehingga total penyaluran kredit menjadi Rp13.515,59 milyar pada akhir triwulan III-2012. Kondisi tersebut menyebabkan tingkat LDR perbankan di Sulawesi Tengah mencapai 129,10%. Secara umum kualitas kredit yang disalurkan oleh perbankan di Sulawesi Tengah pada triwulan laporan masih baik yang ditunjukkan dengan nilai NPL Gross sebesar 2,58%.




Indikator
2012
Tw I
Tw II
Tw III
Indeks Harga Konsumen Kota Palu
135,2
137,53
141,14
Laju Inflasi Tahunan Kota Palu
2,50
4,99
6,78
PDRB Sektoral-Harga Konstan 2000
(miliar Rp)
5.048
5.172
5.254

2.      Tahun 2013
Perekonomian Provinsi Sulawesi Tengah pada triwulan IV-2013 tumbuh sebesar 6,21% atau melambat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya 9,99% . Di sisi penggunaan, pertumbuhan ekonomi terutama ditopang oleh kelompok konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta nirlaba, kelompok investasi, dan kelompok konsumsi pemerintah dengan kontribusi masing-masing sebesar 3,99%, 3,71% dan 1,37%. Sementara di sisi sektoral, sektor pertanian, sektor perdagangan, hotel dan restoran dan sektor jasa-jasa memiliki kontribusi terbesar dengan masing-masing sumbangan sebesar 1,91%; 1,50% dan 1,36%. Panen tabama dan komoditas perkebunan, pelasanaan Hari Nusantara, Natal dan Tahun Baru serta puncak realisasi anggaran APBD dan APBN menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan ekonomi pada triwulan laporan. Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah di tahun 2013 mencapai 9,38% lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya 9,24% maupun nasional sebesar 5,78%.

Secara tahunan , laju inflasi kota Palu pada akhir triwulan IV-2013 mencapai 7,57%, lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,87%, namun masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional triwulan IV-2013 sebesar 8,38%. Pada triwulan laporan, kota Palu mengalami inflasi kuartalan sebesar 1,12%  atau lebih rendah dibandingkan inflasi triwulan sebelumnya sebesar 5,98%. Secara bulanan, inflasi triwulan IV-2013 mengalami puncak pada bulan Desember dengan tingkat inflasi sebesar 1,14%. Pada bulan tersebut, momen Hari Nusantara memberikan dampak yang cukup besar pada inflasi Kota Palu yang terkonfirmasi dari kenaikan harga ikan segar dan bumbu-bumbuan. 

Jumlah aset perbankan di Sulawesi Tengah pada bulan Desember 2013 tercatat sebesar Rp20,57 triliun atau tumbuh sebesar 20,23%. Sementara itu jumlah DPK yang dihimpun di akhir triwulan IV-2013 tercatat sebesar Rp11,73 triliun atau tumbuh sebesar 13,84% . Dalam hal penyaluran kredit, secara keseluruhan kinerja perbankan meningkat cukup tinggi dengan pertumbuhan 22,86%  sehingga total penyaluran kredit menjadi Rp17,87 triliun pada akhir triwulan IV-2013. Kondisi tersebut menyebabkan tingkat LDR perbankan di Sulawesi Tengah mencapai 152,28%. Secara umum kualitas kredit yang disalurkan oleh perbankan di Sulawesi Tengah pada triwulan laporan masih baik yang ditunjukkan dengan nilai NPL Gross sebesar 1,89%.
Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah pada triwulan I-2014 diperkirakan mencapai 7,6% - 8,6%  atau lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Inflasi Tahunan Kota Palu pada triwulan I-2014 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara tahunan, perekonomian Sulawesi Tengah diproyeksikan melambat dari 9,38% pada tahun 2013 menjadi 6,6%-7,6% pada tahun 2014. Penurunan kinerja sektor pertambangan berpengaruh besar pada perlambatan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah di tahun 2014. Di sisi lain, inflasi Sulawesi Tengah pada tahun 2014 diproyeksikan sebesar 4,7% - 5,7%  atau turun dari tahun sebelumnya 7,57%. Tidak adanya kebijakan yang berdampak besar yang dilakukan pemerintah seperti kenaikan BBM,  berbagai upaya yang terus dilakukan berbagai pihak untuk meningkatkan produksi pangan serta rencana pembentukan TPID di beberapa kabupaten menjadi beberapa faktor perkiraan membaiknya tingkat inflasi di tahun 2014.

Indikator
Tahun 2013
Tw I
Tw II
Tw III
Indeks Harga Konsumen Kota Palu
143,27
142,88
151,43
Laju Inflasi Tahunan Kota Palu
5,97%
3,39%
7,28%
PDRB Sektoral Harga Konstan 2000
(Miliar Rp)
5.541
5.719
5.740
Pertumbuhan Ekonomi Sulteng
10,71%
10,87%
9,99%

3.      Tahun 2014
Perekonomian Provinsi Sulawesi Tengah pada triwulan I-2014 mengalami penurunan pertumbuhan yang signifikan hingga menjadi 2,98% , lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya 6,28% maupun periode yang sama tahun sebelumnya 10,71%. Di sisi penggunaan, pertumbuhan ekonomi terutama ditopang oleh kelompok investasi, konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta nirlaba, dan kelompok konsumsi pemerintah dengan kontribusi masing-masing sebesar 5,92%, 4,57% dan 1,37%. Sementara di sisi sektoral, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pertanian, dan sektor jasa-jasa memiliki kontribusi terbesar dengan masing-masing sumbangan sebesar 1,49%; 1,48% dan 1,47%. Penurunan kinerja produksi dan ekspor tambang pasca kebijakan larangan ekspor mentah minerba, memburuknya kinerja subsektor perkebunan dan tabama serta perlambatan kinerja keuangan, persewaan dan jasa perusahaan menjadi faktor utama penurunan tajam perekonomian pada triwulan laporan.

Secara tahunan, laju inflasi kota Palu pada akhir triwulan I-2014 mencapai 8,42%, lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,97% dan inflasi nasional 7,32%. Pada triwulan laporan, kota Palu mengalami deflasi kuartalan sebesar 0,91%  atau lebih rendah dibandingkan inflasi triwulan sebelumnya sebesar 1,12% . Secara bulanan, inflasi triwulan I-2014 mengalami puncak pada bulan Januari dengan tingkat inflasi sebesar 1,03% . Pada bulan tersebut, curah hujan yang tinggi disertai banjir dan longsor di beberapa daerah di Sulawesi Tengah berimbas pada kurangnya pasokan beberapa komoditas pangan utama serta terganggunya proses distribusi dari sentra produksi ke pasar-pasar utama yang memberikan dampak cukup besar pada inflasi Kota Palu.

Jumlah aset perbankan di Sulawesi Tengah pada bulan Maret 2014 tercatat sebesar Rp21,36 triliun atau tumbuh sebesar 15,67% . Sementara itu jumlah DPK yang dihimpun di akhir triwulan I-2014 tercatat sebesar Rp11,88 triliun atau tumbuh sebesar 13,74%. Dalam hal penyaluran kredit, secara keseluruhan kinerja perbankan meningkat dengan pertumbuhan hingga mencapai 19,81% sehingga total penyaluran kredit menjadi Rp17,16 triliun pada akhir triwulan I-2014. Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi mengalami pertumbuhan tertinggi, diikuti kredit kredit konsumsi dan kredit modal kerja. Kondisi tersebut menyebabkan tingkat LDR perbankan di Sulawesi Tengah mencapai 151%. Secara umum kualitas kredit yang disalurkan oleh perbankan di Sulawesi Tengah pada triwulan laporan masih baik yang ditunjukkan dengan nilai NPL Gross sebesar 2,06%.

Indikator
Tahun 2014
Tw I
Indeks Harga Konsumen Kota Palu
111,45
Laju Inflasi Tahunan Kota Palu
8,42%
PDRB Sektoral Harga Konstan 2000
(Miliar Rp)
5.706
Pertumbuhan Ekonomi Sulteng
2,98%

4.      Tahun 2015

Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah mencapai titik baliknya, setelah melalui fase perlambatan pada tahun sebelumnya. Perekonomian Provinsi Sulawesi Tengah pada triwulan I tahun 2015 mampu mencapai pertumbuhan dua digit sebesar 17,76% atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya 9,51%
Faktor yang mendorong meningkatnya pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah adalah meningkatnya kontribusi sektor industri pengolahan seiring dengan beroperasinya industri pengolahan LNG dan smelter. Pertumbuhan ekonomi juga ditopang oleh masih tingginya realisasi investasi dan masih berlangsungnya proyek konstruksi skala besar seperti pembangunan smelter tahap II dan pabrik pupuk amonia.
Realisasi pendapatan daerah lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi belanja daerah. Realisasi pendapatan daerah hingga triwulan I tahun 2015 mencapai Rp 610,56 miliar atau mencapai 22,06% dari total target anggaran 2015 sebesar Rp2.768,26 miliar. Sementara itu, total realisasi belanja daerah mencapai Rp268,45 miliar atau 9,46% dari total anggaran yang tersedia sebesar Rp2.837,56 miliar. Peningkatan realisasi pendapatan daerah ditopang oleh pemasukan retribusi daerah yang mengalami peningkatan persentase realisasi, dari 17,66% pada triwulan I tahun 2014 menjadi 24% pada triwulan laporan atau mengalami peningkatan sebesar Rp180,73 juta.
Realisasi belanja APBN di Sulawesi Tengah lebih tinggi dari realisasi pendapatan APBN. Pada triwulan laporan, jumlah pendapatan APBN mencapai Rp449,67 miliar sedangkan jumlah belanja mencapai Rp606,44 miliar. Jika dibandingkan dengan pencapaian tahun-tahun sebelumnya, maka realisasi pendapatan mengalami peningkatan yang cukup signifikan sedangkan realisasi belanja juga mengalami peningkatan sesuai dengan trend pada triwulan I tahun-tahun sebelumnya.
Memasuki triwulan I tahun 2015, tekanan inflasi tahunan Kota Palu mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan inflasi pada periode sebelumnya. Inflasi tahunan Kota Palu pada triwulan I tahun 2015 tercatat sebesar 5,28% , lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 8,85% . Dibandingkan dengan inflasi pada periode yang sama dalam empat tahun terakhir dengan rata-rata sebesar 5,54%, inflasi tahunan periode laporan masih tercatat lebih rendah. Meredanya tekanan inflasi pada triwulan laporan, dipengaruhi oleh efek penurunan harga BBM pada awal tahun. Selain itu, panen hortikultura dan kondisi cuaca yang relatif kondusif memberi andil yang cukup besar dalam menjaga stabilitas harga pada triwulan laporan.
Kinerja perbankan di Sulawesi Tengah pada triwulan laporan masih mengalami pertumbuhan positif yang ditandai oleh meningkatnya volume usaha, kredit dan Dana Pihak Ketiga (DPK). Pada triwulan I tahun 2015, total aset perbankan di Sulawesi Tengah tercatat sebesar Rp24,55 triliun atau meningkat sebesar14,72% , tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya tumbuh sebesar 13,6% . Masih tumbuhnya aset perbankan dipengaruhi oleh meningkatnya kegiatan penghimpunan dana kepada masyarakat dan kegiatan penyaluran kredit.
Nominal transaksi uang tunai di Sulawesi Tengah pada triwulan laporan mengalami penurunan di sisi outflow sedangkan nominal transaksi di sisi inflow mengalami peningkatan jika dibandingkan triwulan sebelumnya. Sementara secara non tunai, peredaran uang pada triwulan I tahun 2015 meningkat untuk nominal kliring dan RTGS. Sementara peredaran Cek/BG kosong mengalami peningkatan di sisi nominal dan di sisi jumlah warkat.
Kondisi ketenagakerjaan di Sulawesi Tengah secara umum mengalami peningkatan dibandingkan semester sebelumnya (periode Agustus 2014). Jumlah angkatan kerja pada bulan Februari 2015 tercatat sebanyak 1,43 juta orang dengan jumlah angkatan kerja yang telah bekerja mencapai 1,38 juta orang. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) meningkat menjadi 70,21% dari posisi sebelumnya yang mencapai 66,76%. Jumlah penganggur pada Februari 2015 mencapai 42.608 orang atau berkurang 6.781 orang jika dibandingkan dengan bulan Agustus 2014 sebanyak 49.389 orang. Kenaikan jumlah angkatan kerja yang disertai dengan penurunan jumlah pengangguran menyebabkan terjadinya penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dari 3,68% pada Agustus 2014 menjadi 2,99% pada periode Februari 2015.
Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah pada triwulan II-2015 diperkirakan tumbuh meningkat lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada periode sebelumnya. Perekonomian Sulawesi Tengah diperkirakan tumbuh pada kisaran 16,5% - 17,5% . Sementara secara tahunan, pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah di tahun 2015 diperkirakan mencapai 14,40% - 15,40%
Kinerja investasi dan ekspor diperkirakan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi pada triwulan II tahun 2015. Masih berlangsungnya proyek-proyek pembangunan industri pengolahan diperkirakan mendorong peningkatan realisasi investasi pada triwulan II tahun 2015. Salah satu proyek yang mendorong peningkatan realisasi investasi cukup tinggi adalah pembangunan pabrik amonia dan pembangunan smelter tahap II. Dari sisi ekspor, berjalannya produksi smelter tahap I dan masih adanya stok sebesar 50.000 ton yang siap diekspor diharapkan dapat menambah kontribusi pada sisi ekspor luar negeri.
Pada triwulan II 2015 Kota Palu diperkirakan masih mengalami inflasi dengan kisaran 5,37% - 6,37%  atau lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi inflasi triwulan I 2015 yang tercatat sebesar 5,28% . Hal ini disebabkan karena adanya tekanan yang bersifat seasonal seperti perayaan keagamaan bulan ramadhan dan ekspektasi menjelang idul fitri di bulan Juli. Selain itu, outlook peningkatan harga minyak dunia diperkirakan juga dapat menjadi faktor pendorong kenaikan harga BBM sehingga memicu tekanan  inflasi kelompok admistered prices
5.      Tahun 2016
PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI REGIONAL ​
Perekonomian Provinsi Sulawesi Tengah pada triwulan I 2016 tumbuh sebesar 11,81% , walaupun demikian, jika dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang mencapai 15,10%  pertumbuhan pada triwulan laporan mengalami perlambatan. Mesin penggerak pertumbuhan pada triwulan ini berasal dari sektor industri pengolahan yang tumbuh 49,08%  dengan andil pertumbuhan sebesar 5,60%. Sementara dari sisi penggunaan ditopang oleh ekspor yang tumbuh sebesar 125,23% dengan andil pertumbuhan sebesar 6,50%. ​
Kondisi perekonomian Sulawesi Tengah masih berada dalam koridor yang positif meski sedikit mengalami perlambatan, penurunan harga internasional pada komoditas pertambangan berdampak pada turunnya kinerja industri dan ekspor. Sektor lain yang mempengaruhi perlambatan adalah kontraksi sektor konstruksi yang mengalami turning point setelah selesainya beberapa proyek besar industri pengolahan dan proyek lainnya telah memasuki tahap lanjutan. Selain itu, belum dimulainya pembanguan proyek fisik pemerintah juga memberikan dampak pada perlambatan ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan I - 2016. ​
PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH ​
Realisasi pendapatan daerah Sulawesi Tengah mencapai Rp765,18 miliar atau 23,10% dari total target anggaran 2016 sebesar Rp3.312,29 miliar. Persentase nilai realisasi pendapatan pada triwulan I 2016 masih lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 22,06%. Sedangkan Persentase realisasi belanja Pemerintah Daerah Sulawesi Tengah mengalami sedikit peningkatan jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 9,46% dan rata-rata realiasi belanja 5 tahun terakhir hanya sebesar 9,92%. ​
INFLASI DAERAH ​
Inflasi mengalami peningkatan pada akhir triwulan I 2016, tekanan inflasi tahunan Kota Palu tercatat sebesar 6,03%  lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan nasional yang sebesar 4,45% . Inflasi tahunan Kota Palu juga lebih tinggi dibandingkan inflasi triwulan sebelumnya yang mencapai 4,17% . Tekanan inflasi selama triwulan I 2016 dipengaruhi oleh naiknya harga beras pada keseluruhan bulan di triwulan laporan, kenaikan harga bawang merah dan cabai rawit di bulan Januari dan Maret, serta peningkatan harga ikan segar pada bulan maret triwulan laporan. Faktor cuaca menjadi salah satu penyebab dominan meningkatnya tekanan inflasi pada triwulan laporan terutama meningkatnya indeks harga dari sub-kelompok ikan segar. Selain itu, disparitas harga antar daerah juga menyebabkan hasil panen petani hortikultura banyak terserap ke luar Sulawesi Tengah sehingga pasokan ke Kota Palu berkurang dan membuat indeks harga sub-kelompok bumbu-bumbuan di Kota Palu meningkat. ​
PERKEMBANGAN SISTEM KEUANGAN & SISTEM PEMBAYARAN ​
Kinerja perbankan di Sulawesi Tengah pada triwulan laporan mengalami peningkatan positif dari sisi pertumbuhan kredit dan aset, sedangkan dari sisi Dana Pihak Ketiga (DPK) relatif tumbuh lebih lambat dari triwulan sebelumnya. Pada triwulan I 2016, total aset perbankan di Sulawesi Tengah tercatat sebesar Rp28,50 triliun atau tumbuh sebesar 15,61% , lebih tinggi jika dibandingkan triwulan sebelumnya yang mampu tumbuh sebesar 14,60% . Peningkatan aset perbankan juga diikuti oleh pertumbuhan akselerasi kredit sebesar 12,15% , sedangkan DPK tumbuh melambat sebesar 14,49% . ​
Rasio NPL-gross pada akhir Maret 2016 tercatat sebesar 2,06%, rasio tersebut lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 1,86%. Peningkatan rasio NPL terutama disebabkan oleh meningkatnya NPL sektor industri pengolahan dengan pelaku usaha UMKM yang disalurkan oleh Bank Umum, dimana pelaku usaha tersebut bergerak di bidang industri susu, penggilingan padi, dan industri mesin-mesin untuk pertambangan.Meskipun mengalami peningkatan, rasio NPL perbankan secara keseluruhan pada triwulan I - 2016 masih berada pada batas aman yakni dibawah 5%, sehingga kualitas intermediasi perbankan masih berada pada kondisi yang stabil dan diharapkan dapat menunjang keamanan perbankan dalam lingkup makroprudensial ​
Nominal transaksi uang tunai di Sulawesi Tengah pada triwulan laporan mengalami peningkatan di sisi inflow tetapi mengalami penurunan di sisi outflow jika dibandingkan triwulan sebelumnya. Nominal outflow pada triwulan laporan mencapai Rp329,37 miliar, lebih rendah dibandingkan outflow triwulan IV 2015 yang hanya sebesar Rp1.816,19 miliar. Sedangkan inflow mengalami peningkatan menjadi Rp1.154,6 miliar dari Rp213,17 miliar di triwulan IV 2015. Sesuai dengan tren tahun sebelumnya, nilai outflow mengalami penurunan di triwulan I yang didorong oleh masih rendahnya realisasi anggaran pemerintah daerah di triwulan laporan. ​
KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN RAKYAT ​
Kondisi ketenagakerjaan di Sulawesi Tengah secara umum mengalami peningkatan dibandingkan semester sebelumnya (periode Februari 2016). Jumlah angkatan kerja pada Februari 2016 mencapai 1,49 juta orang, atau lebih tinggi dibandingkan periode Februari 2015 yang hanya tercatat sebanyak 1,38 juta orang.Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurun menjadi 3,46% dari posisi sebelumnya yang mencapai 4,10%. ​
Berdasarkan data yang dirilis oleh BPS, Jumlah penduduk miskin di Sulawesi Tengah pada bulan September 2015 tercatat sebanyak 406.340 jiwa atau 14,07% dari seluruh penduduk Sulteng. Jumlah tersebut lebih rendah dari posisi Maret 2015 yang tercatat sebesar 14,66%. ​
PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH ​
Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah pada triwulan II 2016 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada triwulan sebelumnya. Tingginya pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah masih didorong oleh meningkatnya kontribusi sektor pertambangan dan industri pengolahan sebagai dampak dari kinerja smelter pengolahan nikel dan pengolahan LNG. Pada triwulan II 2016, diperkirakan terdapat tambahan produksi dari industri pengolahan nikel tahap II. Optimisme tersebut diperkirakan mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah pada kisaran 15,8%-16,3% . Sementara itu secara tahunan, pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah di akhir tahun diperkirakan masih berada pada kisaran 14,5% - 14,9% . ​

Pada triwulan II - 2016 Kota Palu diperkirakan masih mengalami inflasi dengan kisaran 4,3% - 4,7% atau lebih rendah dibandingkan dengan realisasi inflasi triwulan I 2016 yang tercatat sebesar 6,91% . Tekanan inflasi sempat mereda pada awal triwulan II 2016 dan bahkan terjadi deflasi pada bulan April 2016 karena stabilnya pasokan bahan pokok dan menurunnya harga kelompok administered prices. Namun, kondisi ini diperkirakan akan mengalami tekanan terutama pada akhir triwulan II 2016, terkait dengan masuknya bulan Ramadhan dan persiapan Idul Fitri yang diprediksi akan mendorong pergerakan harga umum terutama dari kelompok angkutan udara,bahan makanan, makanan jadi dan bumbu-bumbuan.
Anggota Kelompok :
1. Irma Yantika
2.Muhammad Dimas Khoirullah
3.Puspita Febriyanti
SUMBER :