PEMBANGUNAN EKONOMI DAERAH SULAWESI TENGAH
1.
Tahun
2012
Palu,
- Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Tengah
pada 2012 meningkat sebesar 9,27 persen.
nilai
produk domestik regional bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2000 juga naik
dari Rp19.237 miliar 2011 menjadi Rp 21.019 miliar 2012.
Pertumbuhan
ekonomi tertinggi terjadi pada sektor pertambangan dan penggalian yang mencapai
26,69 persen.
Sementara pertumbuhan ekonomi tanpa minyak dan gas pada 2012 mencapai 9,45 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Sektor pertanian walaupun tumbuh 6,19 persen, tetapi tetap menjadi sumber pertumbuhan ekonomi utama yakni sebesar 2,42 persen, diikuti sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh 26,99 persen dengan menyumbang pertumbuhan ekonomi sebesar 1,54 persen.
Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan III-2012 mencapai 7,28% , lebih rendah dari pertumbuhan triwulan II-2012 sebesar 9,68% (yoy) maupun periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 9,31% . Di sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi terutama ditopang oleh komponen investasi, diikuti konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah dengan kontribusi masing-masing sebesar 4,29%, 2,64% dan 2,28%. Bila dilihat secara sektoral pertumbuhan ekonomi terutama di topang oleh kinerja pada sektor pertanian, sektor jasa-jasa dan sektor perdagangan, hotel dan restoran, dimana masing-masing memiliki kontribusi sebesar 2,82%, 1,40% dan 1,14%. Panen raya padi dan kakao yang berlangsung pada triwulan laporan, realisasi anggaran pemerintah (APBD dan APBN) yang berjalan progresif, peningkatan geliat ekonomi pada bulan Ramadhan dan Hari Raya idul Fitri serta realisasi investasi proyek konstruksi PT. Donggi Senoro LNG yang masih berjalan menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan ekonomi pada triwulan laporan. Secara tahunan , laju inflasi kota Palu pada akhir triwulan III-2012 mencapai 6,78%, lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3,09% dan inflasi nasional 4,31%. Pada triwulan laporan, kota Palu mengalami inflasi kuartalan sebesar 2,62% atau lebih tinggi dibandingkan inflasi triwulan sebelumnya sebesar 1,72% . Komoditas angkutan udara dan ikan segar dominan dalam menyumbang inflasi. Hasil Survei Konsumen pada triwulan laporan menunjukkan bahwa ekspektasi konsumen terhadap harga cenderung meningkat pada akhir triwulan III-2012 yang dipengaruhi oleh adanya bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.
Sementara pertumbuhan ekonomi tanpa minyak dan gas pada 2012 mencapai 9,45 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Sektor pertanian walaupun tumbuh 6,19 persen, tetapi tetap menjadi sumber pertumbuhan ekonomi utama yakni sebesar 2,42 persen, diikuti sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh 26,99 persen dengan menyumbang pertumbuhan ekonomi sebesar 1,54 persen.
Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan III-2012 mencapai 7,28% , lebih rendah dari pertumbuhan triwulan II-2012 sebesar 9,68% (yoy) maupun periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 9,31% . Di sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi terutama ditopang oleh komponen investasi, diikuti konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah dengan kontribusi masing-masing sebesar 4,29%, 2,64% dan 2,28%. Bila dilihat secara sektoral pertumbuhan ekonomi terutama di topang oleh kinerja pada sektor pertanian, sektor jasa-jasa dan sektor perdagangan, hotel dan restoran, dimana masing-masing memiliki kontribusi sebesar 2,82%, 1,40% dan 1,14%. Panen raya padi dan kakao yang berlangsung pada triwulan laporan, realisasi anggaran pemerintah (APBD dan APBN) yang berjalan progresif, peningkatan geliat ekonomi pada bulan Ramadhan dan Hari Raya idul Fitri serta realisasi investasi proyek konstruksi PT. Donggi Senoro LNG yang masih berjalan menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan ekonomi pada triwulan laporan. Secara tahunan , laju inflasi kota Palu pada akhir triwulan III-2012 mencapai 6,78%, lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3,09% dan inflasi nasional 4,31%. Pada triwulan laporan, kota Palu mengalami inflasi kuartalan sebesar 2,62% atau lebih tinggi dibandingkan inflasi triwulan sebelumnya sebesar 1,72% . Komoditas angkutan udara dan ikan segar dominan dalam menyumbang inflasi. Hasil Survei Konsumen pada triwulan laporan menunjukkan bahwa ekspektasi konsumen terhadap harga cenderung meningkat pada akhir triwulan III-2012 yang dipengaruhi oleh adanya bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.
Sementara
itu, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan IV/2012 tumbuh 7,83 persen
dibandingkan triwulan III/2012, dan jika dibandingkan triwulan IV/2011 tumbuh
sebesar 10,97 persen.
Pada triwulan IV/2012 semua sektor mengalami pertumbuhan ekonomi jika dibandingkan dengan triwulan III/2012.
Priyono mengatakan pertumbuhan ekonomi tertinggi pada triwulan IV/2012 adalah sektor pertambangan dan penggalian, yakni sebesar 107,75 persen.
Pertumbuhan ekonomi tahun 2012 sebesar 9,27 persen bersumber dari konsumsi rumah tangga (3,92 persen), pembentukan modal tetap bruto atau investasi fisik (3,28 persen), serta ekspor barang dan jasa 2,19 persen.
Sementara impor barang dan jasa merupakan faktor pengurang pertumbuhan sebesar 1,39 persen, konsumsi pemerintah (1,13 persen), dan perubahan inventori 0,13 persen. (R026/SKD)
Pada triwulan IV/2012 semua sektor mengalami pertumbuhan ekonomi jika dibandingkan dengan triwulan III/2012.
Priyono mengatakan pertumbuhan ekonomi tertinggi pada triwulan IV/2012 adalah sektor pertambangan dan penggalian, yakni sebesar 107,75 persen.
Pertumbuhan ekonomi tahun 2012 sebesar 9,27 persen bersumber dari konsumsi rumah tangga (3,92 persen), pembentukan modal tetap bruto atau investasi fisik (3,28 persen), serta ekspor barang dan jasa 2,19 persen.
Sementara impor barang dan jasa merupakan faktor pengurang pertumbuhan sebesar 1,39 persen, konsumsi pemerintah (1,13 persen), dan perubahan inventori 0,13 persen. (R026/SKD)
Perkembangan
berbagai indikator perbankan pada triwulan III-2012 menunjukkan tren
pertumbuhan yang positif. Secara industri (gabungan Bank Umum dan BPR), jumlah
aset perbankan di Sulawesi Tengah pada bulan September2012 tercatat sebesar
Rp17.056,47 milyar atau tumbuh sebesar 26,19% . Sementara itu jumlah DPK yang
dihimpun di akhir triwulan III-2012tercatat sebesar Rp10.469 milyar atau tumbuh
sebesar 26,17% . Dalam hal penyaluran kredit, secara keseluruhan kinerja
perbankan meningkat dengan pertumbuhan hingga mencapai 22,20% sehingga total penyaluran kredit menjadi
Rp13.515,59 milyar pada akhir triwulan III-2012. Kondisi tersebut menyebabkan
tingkat LDR perbankan di Sulawesi Tengah mencapai 129,10%. Secara umum kualitas
kredit yang disalurkan oleh perbankan di Sulawesi Tengah pada triwulan laporan
masih baik yang ditunjukkan dengan nilai NPL Gross sebesar 2,58%.
|
Indikator
|
2012
|
||
|
Tw I
|
Tw II
|
Tw III
|
|
|
Indeks Harga Konsumen Kota Palu
|
135,2
|
137,53
|
141,14
|
|
Laju Inflasi Tahunan Kota Palu
|
2,50
|
4,99
|
6,78
|
|
PDRB Sektoral-Harga Konstan 2000
(miliar Rp)
|
5.048
|
5.172
|
5.254
|
2.
Tahun
2013
Perekonomian
Provinsi Sulawesi Tengah pada triwulan IV-2013 tumbuh sebesar 6,21% atau
melambat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya 9,99% . Di sisi
penggunaan, pertumbuhan ekonomi terutama ditopang oleh kelompok konsumsi rumah
tangga dan lembaga swasta nirlaba, kelompok investasi, dan kelompok konsumsi
pemerintah dengan kontribusi masing-masing sebesar 3,99%, 3,71% dan 1,37%.
Sementara di sisi sektoral, sektor pertanian, sektor perdagangan, hotel dan
restoran dan sektor jasa-jasa memiliki kontribusi terbesar dengan masing-masing
sumbangan sebesar 1,91%; 1,50% dan 1,36%. Panen tabama dan komoditas
perkebunan, pelasanaan Hari Nusantara, Natal dan Tahun Baru serta puncak
realisasi anggaran APBD dan APBN menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan
ekonomi pada triwulan laporan. Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi Sulawesi
Tengah di tahun 2013 mencapai 9,38% lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya
9,24% maupun nasional sebesar 5,78%.
Secara tahunan
, laju inflasi kota Palu pada akhir triwulan IV-2013 mencapai 7,57%, lebih
tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,87%,
namun masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional triwulan IV-2013 sebesar
8,38%. Pada triwulan laporan, kota Palu mengalami inflasi kuartalan sebesar
1,12% atau lebih rendah dibandingkan
inflasi triwulan sebelumnya sebesar 5,98%. Secara bulanan, inflasi triwulan
IV-2013 mengalami puncak pada bulan Desember dengan tingkat inflasi sebesar
1,14%. Pada bulan tersebut, momen Hari Nusantara memberikan dampak yang cukup
besar pada inflasi Kota Palu yang terkonfirmasi dari kenaikan harga ikan segar
dan bumbu-bumbuan.
Jumlah aset
perbankan di Sulawesi Tengah pada bulan Desember 2013 tercatat sebesar Rp20,57
triliun atau tumbuh sebesar 20,23%. Sementara itu jumlah DPK yang dihimpun di
akhir triwulan IV-2013 tercatat sebesar Rp11,73 triliun atau tumbuh sebesar
13,84% . Dalam hal penyaluran kredit, secara keseluruhan kinerja perbankan
meningkat cukup tinggi dengan pertumbuhan 22,86% sehingga total penyaluran kredit menjadi
Rp17,87 triliun pada akhir triwulan IV-2013. Kondisi tersebut menyebabkan
tingkat LDR perbankan di Sulawesi Tengah mencapai 152,28%. Secara umum kualitas
kredit yang disalurkan oleh perbankan di Sulawesi Tengah pada triwulan laporan
masih baik yang ditunjukkan dengan nilai NPL Gross sebesar 1,89%.
Pertumbuhan ekonomi Provinsi
Sulawesi Tengah pada triwulan I-2014 diperkirakan mencapai 7,6% - 8,6% atau lebih rendah dibandingkan dengan periode
yang sama tahun sebelumnya. Inflasi Tahunan Kota Palu pada triwulan I-2014
diperkirakan lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan periode yang sama tahun
sebelumnya. Secara tahunan, perekonomian Sulawesi Tengah diproyeksikan melambat
dari 9,38% pada tahun 2013 menjadi 6,6%-7,6% pada tahun 2014. Penurunan kinerja
sektor pertambangan berpengaruh besar pada perlambatan pertumbuhan ekonomi
Sulawesi Tengah di tahun 2014. Di sisi lain, inflasi Sulawesi Tengah pada tahun
2014 diproyeksikan sebesar 4,7% - 5,7% atau turun dari tahun sebelumnya 7,57%. Tidak
adanya kebijakan yang berdampak besar yang dilakukan pemerintah seperti
kenaikan BBM, berbagai upaya yang terus dilakukan berbagai pihak untuk
meningkatkan produksi pangan serta rencana pembentukan TPID di beberapa
kabupaten menjadi beberapa faktor perkiraan membaiknya tingkat inflasi di tahun
2014.
|
Indikator
|
Tahun 2013
|
||
|
Tw I
|
Tw II
|
Tw III
|
|
|
Indeks Harga Konsumen Kota Palu
|
143,27
|
142,88
|
151,43
|
|
Laju Inflasi Tahunan Kota Palu
|
5,97%
|
3,39%
|
7,28%
|
|
PDRB Sektoral Harga Konstan 2000
(Miliar Rp)
|
5.541
|
5.719
|
5.740
|
|
Pertumbuhan Ekonomi Sulteng
|
10,71%
|
10,87%
|
9,99%
|
3.
Tahun
2014
Perekonomian
Provinsi Sulawesi Tengah pada triwulan I-2014 mengalami penurunan pertumbuhan
yang signifikan hingga menjadi 2,98% , lebih rendah dibandingkan pertumbuhan
triwulan sebelumnya 6,28%
maupun periode yang sama tahun sebelumnya 10,71%. Di sisi penggunaan,
pertumbuhan ekonomi terutama ditopang oleh kelompok investasi, konsumsi rumah
tangga dan lembaga swasta nirlaba, dan kelompok konsumsi pemerintah dengan
kontribusi masing-masing sebesar 5,92%, 4,57% dan 1,37%. Sementara di sisi
sektoral, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pertanian, dan sektor
jasa-jasa memiliki kontribusi terbesar dengan masing-masing sumbangan sebesar
1,49%; 1,48% dan 1,47%. Penurunan kinerja produksi dan ekspor tambang pasca
kebijakan larangan ekspor mentah minerba, memburuknya kinerja subsektor
perkebunan dan tabama serta perlambatan kinerja keuangan, persewaan dan jasa
perusahaan menjadi faktor utama penurunan tajam perekonomian pada triwulan
laporan.
Secara
tahunan, laju inflasi kota Palu pada akhir triwulan I-2014 mencapai 8,42%,
lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar
5,97% dan inflasi nasional 7,32%. Pada triwulan laporan, kota Palu mengalami
deflasi kuartalan sebesar 0,91% atau
lebih rendah dibandingkan inflasi triwulan sebelumnya sebesar 1,12% . Secara
bulanan, inflasi triwulan I-2014 mengalami puncak pada bulan Januari dengan tingkat
inflasi sebesar 1,03% . Pada bulan tersebut, curah hujan yang tinggi disertai
banjir dan longsor di beberapa daerah di Sulawesi Tengah berimbas pada
kurangnya pasokan beberapa komoditas pangan utama serta terganggunya proses
distribusi dari sentra produksi ke pasar-pasar utama yang memberikan dampak
cukup besar pada inflasi Kota Palu.
Jumlah
aset perbankan di Sulawesi Tengah pada bulan Maret 2014 tercatat sebesar
Rp21,36 triliun atau tumbuh sebesar 15,67% . Sementara itu jumlah DPK yang
dihimpun di akhir triwulan I-2014 tercatat sebesar Rp11,88 triliun atau tumbuh
sebesar 13,74%. Dalam hal penyaluran kredit, secara keseluruhan kinerja
perbankan meningkat dengan pertumbuhan hingga mencapai 19,81% sehingga total
penyaluran kredit menjadi Rp17,16 triliun pada akhir triwulan I-2014.
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi mengalami pertumbuhan tertinggi,
diikuti kredit kredit konsumsi dan kredit modal kerja. Kondisi tersebut
menyebabkan tingkat LDR perbankan di Sulawesi Tengah mencapai 151%. Secara umum
kualitas kredit yang disalurkan oleh perbankan di Sulawesi Tengah pada triwulan
laporan masih baik yang ditunjukkan dengan nilai NPL Gross sebesar 2,06%.
|
Indikator
|
Tahun 2014
|
|
Tw I
|
|
|
Indeks Harga Konsumen Kota Palu
|
111,45
|
|
Laju Inflasi Tahunan Kota Palu
|
8,42%
|
|
PDRB Sektoral Harga Konstan 2000
(Miliar Rp)
|
5.706
|
|
Pertumbuhan Ekonomi Sulteng
|
2,98%
|
4.
Tahun
2015
Pertumbuhan
ekonomi Sulawesi Tengah mencapai titik baliknya, setelah melalui fase
perlambatan pada tahun sebelumnya. Perekonomian Provinsi Sulawesi Tengah pada
triwulan I tahun 2015 mampu mencapai pertumbuhan dua digit sebesar 17,76% atau
lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya 9,51%
Faktor yang
mendorong meningkatnya pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah adalah meningkatnya
kontribusi sektor industri pengolahan seiring dengan beroperasinya industri
pengolahan LNG dan smelter. Pertumbuhan ekonomi juga ditopang oleh masih
tingginya realisasi investasi dan masih berlangsungnya proyek konstruksi skala
besar seperti pembangunan smelter tahap II dan pabrik pupuk amonia.
Realisasi
pendapatan daerah lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi belanja daerah.
Realisasi pendapatan daerah hingga triwulan I tahun 2015 mencapai Rp 610,56
miliar atau mencapai 22,06% dari total target anggaran 2015 sebesar Rp2.768,26
miliar. Sementara itu, total realisasi belanja daerah mencapai Rp268,45 miliar
atau 9,46% dari total anggaran yang tersedia sebesar Rp2.837,56 miliar.
Peningkatan realisasi pendapatan daerah ditopang oleh pemasukan retribusi
daerah yang mengalami peningkatan persentase realisasi, dari 17,66% pada
triwulan I tahun 2014 menjadi 24% pada triwulan laporan atau mengalami
peningkatan sebesar Rp180,73 juta.
Realisasi
belanja APBN di Sulawesi Tengah lebih tinggi dari realisasi pendapatan APBN.
Pada triwulan laporan, jumlah pendapatan APBN mencapai Rp449,67 miliar
sedangkan jumlah belanja mencapai Rp606,44 miliar. Jika dibandingkan dengan
pencapaian tahun-tahun sebelumnya, maka realisasi pendapatan mengalami
peningkatan yang cukup signifikan sedangkan realisasi belanja juga mengalami
peningkatan sesuai dengan trend pada triwulan I tahun-tahun sebelumnya.
Memasuki
triwulan I tahun 2015, tekanan inflasi tahunan Kota Palu mengalami penurunan
apabila dibandingkan dengan inflasi pada periode sebelumnya. Inflasi tahunan
Kota Palu pada triwulan I tahun 2015 tercatat sebesar 5,28% , lebih rendah
dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 8,85% . Dibandingkan dengan inflasi
pada periode yang sama dalam empat tahun terakhir dengan rata-rata sebesar
5,54%, inflasi tahunan periode laporan masih tercatat lebih rendah. Meredanya
tekanan inflasi pada triwulan laporan, dipengaruhi oleh efek penurunan harga
BBM pada awal tahun. Selain itu, panen hortikultura dan kondisi cuaca yang
relatif kondusif memberi andil yang cukup besar dalam menjaga stabilitas harga
pada triwulan laporan.
Kinerja
perbankan di Sulawesi Tengah pada triwulan laporan masih mengalami pertumbuhan
positif yang ditandai oleh meningkatnya volume usaha, kredit dan Dana Pihak
Ketiga (DPK). Pada triwulan I tahun 2015, total aset perbankan di Sulawesi
Tengah tercatat sebesar Rp24,55 triliun atau meningkat sebesar14,72% , tumbuh
lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya tumbuh sebesar 13,6% .
Masih tumbuhnya aset perbankan dipengaruhi oleh meningkatnya kegiatan
penghimpunan dana kepada masyarakat dan kegiatan penyaluran kredit.
Nominal
transaksi uang tunai di Sulawesi Tengah pada triwulan laporan mengalami
penurunan di sisi outflow sedangkan nominal transaksi di sisi inflow mengalami
peningkatan jika dibandingkan triwulan sebelumnya. Sementara secara non tunai,
peredaran uang pada triwulan I tahun 2015 meningkat untuk nominal kliring dan
RTGS. Sementara peredaran Cek/BG kosong mengalami peningkatan di sisi nominal
dan di sisi jumlah warkat.
Kondisi
ketenagakerjaan di Sulawesi Tengah secara umum mengalami peningkatan
dibandingkan semester sebelumnya (periode Agustus 2014). Jumlah angkatan kerja
pada bulan Februari 2015 tercatat sebanyak 1,43 juta orang dengan jumlah
angkatan kerja yang telah bekerja mencapai 1,38 juta orang. Tingkat Partisipasi
Angkatan Kerja (TPAK) meningkat menjadi 70,21% dari posisi sebelumnya yang
mencapai 66,76%. Jumlah penganggur pada Februari 2015 mencapai 42.608 orang
atau berkurang 6.781 orang jika dibandingkan dengan bulan Agustus 2014 sebanyak
49.389 orang. Kenaikan jumlah angkatan kerja yang disertai dengan penurunan
jumlah pengangguran menyebabkan terjadinya penurunan Tingkat Pengangguran
Terbuka (TPT) dari 3,68% pada Agustus 2014 menjadi 2,99% pada periode Februari
2015.
Pertumbuhan
ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah pada triwulan II-2015 diperkirakan tumbuh
meningkat lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada periode
sebelumnya. Perekonomian Sulawesi Tengah diperkirakan tumbuh pada kisaran 16,5%
- 17,5% . Sementara secara tahunan, pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi
Tengah di tahun 2015 diperkirakan mencapai 14,40% - 15,40%
Kinerja
investasi dan ekspor diperkirakan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi
pada triwulan II tahun 2015. Masih berlangsungnya proyek-proyek pembangunan
industri pengolahan diperkirakan mendorong peningkatan realisasi investasi pada
triwulan II tahun 2015. Salah satu proyek yang mendorong peningkatan realisasi
investasi cukup tinggi adalah pembangunan pabrik amonia dan pembangunan smelter
tahap II. Dari sisi ekspor, berjalannya produksi smelter tahap I dan masih
adanya stok sebesar 50.000 ton yang siap diekspor diharapkan dapat menambah
kontribusi pada sisi ekspor luar negeri.
Pada triwulan
II 2015 Kota Palu diperkirakan masih mengalami inflasi dengan kisaran 5,37% -
6,37% atau lebih tinggi dibandingkan
dengan realisasi inflasi triwulan I 2015 yang tercatat sebesar 5,28% . Hal ini
disebabkan karena adanya tekanan yang bersifat seasonal seperti perayaan
keagamaan bulan ramadhan dan ekspektasi menjelang idul fitri di bulan Juli.
Selain itu, outlook peningkatan harga minyak dunia diperkirakan juga dapat
menjadi faktor pendorong kenaikan harga BBM sehingga memicu tekanan inflasi kelompok admistered prices
5.
Tahun 2016
PERKEMBANGAN
MAKROEKONOMI REGIONAL
Perekonomian
Provinsi Sulawesi Tengah pada triwulan I 2016 tumbuh sebesar 11,81% , walaupun
demikian, jika dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang
mencapai 15,10% pertumbuhan pada
triwulan laporan mengalami perlambatan. Mesin penggerak pertumbuhan pada
triwulan ini berasal dari sektor industri pengolahan yang tumbuh 49,08% dengan andil pertumbuhan sebesar 5,60%.
Sementara dari sisi penggunaan ditopang oleh ekspor yang tumbuh sebesar 125,23%
dengan andil pertumbuhan sebesar 6,50%.
Kondisi
perekonomian Sulawesi Tengah masih berada dalam koridor yang positif meski
sedikit mengalami perlambatan, penurunan harga internasional pada komoditas
pertambangan berdampak pada turunnya kinerja industri dan ekspor. Sektor lain
yang mempengaruhi perlambatan adalah kontraksi sektor konstruksi yang mengalami
turning point setelah selesainya beberapa proyek besar industri pengolahan dan
proyek lainnya telah memasuki tahap lanjutan. Selain itu, belum dimulainya
pembanguan proyek fisik pemerintah juga memberikan dampak pada perlambatan
ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan I - 2016.
PERKEMBANGAN
KEUANGAN DAERAH
Realisasi
pendapatan daerah Sulawesi Tengah mencapai Rp765,18 miliar atau 23,10% dari
total target anggaran 2016 sebesar Rp3.312,29 miliar. Persentase nilai
realisasi pendapatan pada triwulan I 2016 masih lebih tinggi dibandingkan
periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 22,06%. Sedangkan Persentase
realisasi belanja Pemerintah Daerah Sulawesi Tengah mengalami sedikit
peningkatan jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai
9,46% dan rata-rata realiasi belanja 5 tahun terakhir hanya sebesar 9,92%.
INFLASI
DAERAH
Inflasi
mengalami peningkatan pada akhir triwulan I 2016, tekanan inflasi tahunan Kota
Palu tercatat sebesar 6,03% lebih tinggi
dibandingkan inflasi tahunan nasional yang sebesar 4,45% . Inflasi tahunan Kota
Palu juga lebih tinggi dibandingkan inflasi triwulan sebelumnya yang mencapai
4,17% . Tekanan inflasi selama triwulan I 2016 dipengaruhi oleh naiknya harga
beras pada keseluruhan bulan di triwulan laporan, kenaikan harga bawang merah dan
cabai rawit di bulan Januari dan Maret, serta peningkatan harga ikan segar pada
bulan maret triwulan laporan. Faktor cuaca menjadi salah satu penyebab dominan
meningkatnya tekanan inflasi pada triwulan laporan terutama meningkatnya indeks
harga dari sub-kelompok ikan segar. Selain itu, disparitas harga antar daerah
juga menyebabkan hasil panen petani hortikultura banyak terserap ke luar
Sulawesi Tengah sehingga pasokan ke Kota Palu berkurang dan membuat indeks
harga sub-kelompok bumbu-bumbuan di Kota Palu meningkat.
PERKEMBANGAN
SISTEM KEUANGAN & SISTEM PEMBAYARAN
Kinerja
perbankan di Sulawesi Tengah pada triwulan laporan mengalami peningkatan
positif dari sisi pertumbuhan kredit dan aset, sedangkan dari sisi Dana Pihak
Ketiga (DPK) relatif tumbuh lebih lambat dari triwulan sebelumnya. Pada
triwulan I 2016, total aset perbankan di Sulawesi Tengah tercatat sebesar
Rp28,50 triliun atau tumbuh sebesar 15,61% , lebih tinggi jika dibandingkan
triwulan sebelumnya yang mampu tumbuh sebesar 14,60% . Peningkatan aset
perbankan juga diikuti oleh pertumbuhan akselerasi kredit sebesar 12,15% ,
sedangkan DPK tumbuh melambat sebesar 14,49% .
Rasio NPL-gross
pada akhir Maret 2016 tercatat sebesar 2,06%, rasio tersebut lebih tinggi
dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 1,86%. Peningkatan rasio
NPL terutama disebabkan oleh meningkatnya NPL sektor industri pengolahan dengan
pelaku usaha UMKM yang disalurkan oleh Bank Umum, dimana pelaku usaha tersebut
bergerak di bidang industri susu, penggilingan padi, dan industri mesin-mesin
untuk pertambangan.Meskipun mengalami peningkatan, rasio NPL perbankan secara
keseluruhan pada triwulan I - 2016 masih berada pada batas aman yakni dibawah
5%, sehingga kualitas intermediasi perbankan masih berada pada kondisi yang stabil
dan diharapkan dapat menunjang keamanan perbankan dalam lingkup makroprudensial
Nominal
transaksi uang tunai di Sulawesi Tengah pada triwulan laporan mengalami
peningkatan di sisi inflow tetapi mengalami penurunan di sisi outflow jika
dibandingkan triwulan sebelumnya. Nominal outflow pada triwulan laporan
mencapai Rp329,37 miliar, lebih rendah dibandingkan outflow triwulan IV 2015
yang hanya sebesar Rp1.816,19 miliar. Sedangkan inflow mengalami peningkatan
menjadi Rp1.154,6 miliar dari Rp213,17 miliar di triwulan IV 2015. Sesuai
dengan tren tahun sebelumnya, nilai outflow mengalami penurunan di triwulan I
yang didorong oleh masih rendahnya realisasi anggaran pemerintah daerah di
triwulan laporan.
KETENAGAKERJAAN
DAN KESEJAHTERAAN RAKYAT
Kondisi ketenagakerjaan
di Sulawesi Tengah secara umum mengalami peningkatan dibandingkan semester
sebelumnya (periode Februari 2016). Jumlah angkatan kerja pada Februari 2016
mencapai 1,49 juta orang, atau lebih tinggi dibandingkan periode Februari 2015
yang hanya tercatat sebanyak 1,38 juta orang.Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)
menurun menjadi 3,46% dari posisi sebelumnya yang mencapai 4,10%.
Berdasarkan
data yang dirilis oleh BPS, Jumlah penduduk miskin di Sulawesi Tengah pada
bulan September 2015 tercatat sebanyak 406.340 jiwa atau 14,07% dari seluruh
penduduk Sulteng. Jumlah tersebut lebih rendah dari posisi Maret 2015 yang
tercatat sebesar 14,66%.
PROSPEK
PEREKONOMIAN DAERAH
Pertumbuhan
ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah pada triwulan II 2016 diperkirakan lebih
tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada triwulan sebelumnya.
Tingginya pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah masih didorong oleh meningkatnya
kontribusi sektor pertambangan dan industri pengolahan sebagai dampak dari
kinerja smelter pengolahan nikel dan pengolahan LNG. Pada triwulan II 2016,
diperkirakan terdapat tambahan produksi dari industri pengolahan nikel tahap
II. Optimisme tersebut diperkirakan mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi
Sulawesi Tengah pada kisaran 15,8%-16,3% . Sementara itu secara tahunan,
pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah di akhir tahun diperkirakan masih
berada pada kisaran 14,5% - 14,9% .
Pada triwulan
II - 2016 Kota Palu diperkirakan masih mengalami inflasi dengan kisaran 4,3% -
4,7% atau lebih rendah dibandingkan dengan realisasi inflasi triwulan I 2016
yang tercatat sebesar 6,91% . Tekanan inflasi sempat mereda pada awal triwulan
II 2016 dan bahkan terjadi deflasi pada bulan April 2016 karena stabilnya
pasokan bahan pokok dan menurunnya harga kelompok administered prices. Namun,
kondisi ini diperkirakan akan mengalami tekanan terutama pada akhir triwulan II
2016, terkait dengan masuknya bulan Ramadhan dan persiapan Idul Fitri yang
diprediksi akan mendorong pergerakan harga umum terutama dari kelompok angkutan
udara,bahan makanan, makanan jadi dan bumbu-bumbuan.
Anggota Kelompok :
1. Irma Yantika
2.Muhammad Dimas Khoirullah
3.Puspita Febriyanti
SUMBER :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar